Dapat Vaksin Palsu, Perlukah Imunisasi Ulang? Ini Pertimbangannya

0
1568
Cara membedakan Vaksin Asli dan Palsu
Cara membedakan Vaksin Asli dan Palsu
Cara membedakan Vaksin Asli dan Palsu

Jakarta, Kementerian Kesehatan menjamin imunisasi ulang bagi anak-anak yang mendapat vaksin palsu. Namun imunisasi ulang tidak sembarangan dilakukan, ada beberapa pertimbangan dan penilaian yang akan dilakukan sebelumnya.

Salah satu pertimbangan yang dilakukan untuk menentukan perlu tidaknya imunisasi ulang adalah cakupan imunisasi. Dalam satu wilayah dengan cakupan imunisasi tinggi, seorang anak akan mendapat kekebalan alami terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

“Imunisasi itu, kalau sudah mencakup 85 persen kita harapkan mereka sudah terimunisasi secara environment,” jelas Menteri Kesehatan, Prof Dr Nila F Moeloek usai mengikuti senam bersama karyawan di kantornya, Jumat (15/7/2016).

“Ini bisa dinilai dari antibodi dan sebagainya. Teknis sekali kalau dijelaskan,” lanjut Menkes Nila.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr HM Subuh, MPPM menyebut kekebalan semacam ini sebagai self immunity. Kekebalan ini didapat di lingkungan dengan cakupan imunisasi atau Universal Child Immunization (UCI) tinggi.

“Anak-anak yang berada di wilayah dengan cakupan imunisasi dasar lengkap yang tinggi, yakni UCI lebih dari 90 persen terlindungi self immunity,” kata dr Subuh.

Tentunya, masih ada banyak pertimbangan lain untuk menentukan perlu tidaknya imunisasi ulang dilakukan pada seorang anak. Pemberian imunisasi ulang juga akan mengikuti pedoman dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

“Kasus ini menjadi bukti bahwa imunisasi itu penting karena benar mampu melindungi, tidak hanya pribadi sang buah hati, namun juga anak-anak sekitarnya,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes, Oscar Primadi.

LEAVE A REPLY