Dokter UI Teliti Risiko Resistensi Terapi Preoperatif Pasien Kanker Payudara

0
1745

Jakarta, Pengobatan kanker dengan terapi preoperatif seperti terapi hormonal dan kemoterapi memiliki risiko resistensi yang berakibat pada gagalnya pengobatan. Menurut pakar, hal ini bisa saja terjadi karena kanker merupakan penyakit yang sangat kompleks.

Dr dr Sonar Soni Panigoro, SpB(K)Onk, Staf Divisi Bedah Onkologi, Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan sekitar 25 persen pasien kanker mengalami resistensi pengobatan yang berujung pada mortalitas atau kematian. Resistensi ini terjadi pada seluruh modalitas pengobatan, mulai dari bedah, radiasi, kemoterapi dan terapi hormonal.

“Penelitian saya dilakukan untuk melihat faktor risiko resistensi pada terapi sistemik preoperatif yakni kemoterapi dan terapi hormonal. Diketahui bahwa protein E-cadherin dan Vimentin memiliki peranan sebagai faktor risiko resistensi tersebut,” tutur dr Sonar dalam sidang disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba , Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016).

Dijelaskan dr Sonar, dalam penentuan modalitas pengobatan pasien kanker payudara, pemeriksaan biopsi diperlukan untuk melihat jenis estrogen reseptor (ER). Jika hasil biopsi menunjukkan ER positif, terapi hormonal menjadi satu-satunya modalitas pengobatan yang bisa dilakukan. Sementara jika hasilnya negatif, terapi hormonal tidak bisa dilakukan dan pasien diberi pengobatan kemoterapi.

Namun dalam praktiknya, terapi hormonal pada pasien ER positif masih ada yang menunjukkan resistensi. Begitu juga pada pasien ER negatif yang diberikan pengobatan kemoterapi.

Penelitian dr Sonar dilakukan kepada 65 pasien kanker payudara stadium 3 dan 4. Lima pasien dengan karsinoma Iobular dikeluarkan. Dari 60 pasien sisanya, 31 mendapat kemoterapi dan 29 mendapat terapi hormonal. Setelah terapi, hanya 46 orang pasien yang dapat menjalani mastektomi.

Hasil penelitian menyebut protein E-cadherin negatif dan vimentin positif merupakan faktor risiko terjadinya resistensi terhadap terapi hormonal preoperatif. Untuk penjelasan yang lebih lengkap, simak tabel di bawah ini.

Hasil penelitian dr Sonar menunjukkan bahwa pada pasien kanker payudara, biopsi yang dilakukan hanya untuk melihat estrogen reseptor tidaklah cukup. Biopsi juga seharusnya melihat E-cadherin dan vimentin pada pasien agar pengobatan menjadi lebih terarah, efektif dan efisien.

“Selama ini kalau biopsi kan yang dilihat hanya ER saja, positif atau negatif. Dengan adanya penelitian ini saya berharap agar biopsi untuk melihat E-cadherin dan vimentin bisa menjadi protokol pengobatan standar agar risiko terjadinya resistensi juga berkurang,” tuturnya.

LEAVE A REPLY