UNFPA: ‘Sunat’ pada Anak Perempuan Adalah Bentuk Penganiayaan

0
1352

Jakarta, Untuk pertama kalinya United Nations Population Fund (UNFPA) mendeskripsikan bahwa kegiatan sunat pada anak perempuan atau female genital mutilation (FGM) merupakan bentuk penganiayaan. Alasannya karena FGM tak membawa manfaat apa-apa berbeda dari sunat yang dilakukan pada anak laki-laki.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperkirakan setidaknya lebih dari 200 juta wanita di dunia pernah menjalani prosedur di mana sebagian kelaminnya dipindahkan ini. Kepala UNFPA Dr Babatunde Osotimehin mengatakan praktik FGM perlu berhenti secepatnya.

“Tidak ada alasan untuk menyunat siapapun. Bagi kita tampaknya ini adalah bagian dari ketidakseimbangan gender yang selalu ada dalam komunitas berbasis patriarki. Ini adalah penganiayaan anak,” kata Osotimehin seperti dikutip dari BBC, Sabtu (16/7/2016).

Baca juga: Sunat Perempuan di Indonesia, Masih Bolehkah Dilakukan?

FGM saat ini masih bisa ditemukan di negara-negara Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Para ahli menentang praktik ini karena tak ada manfaat medis yang bisa didapatkan dan malah berisiko.

World Health Organization (WHO) bahkan pernah menyebut bahwa praktik FGM bersama dengan pernikahan dini turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu di beberapa negara miskin. Kepala Kesehatan Publik WHO Maria Neira mengatakan untuk mencegah agar budaya tersebut bisa ditekan maka pendidikan masyarakat perlu ditingkatkan.

“Begitu wanita mendapatkan pendidikan minimal, suara mereka akan lebih kuat. Kita perlu memberikan perhatian kepada perempuan karena saat ini mereka belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Kita perlu mendukung mereka,” kata Neira.

Baca juga: Korban ‘Sunat’ Wanita di Australia Berharap Bisa Operasi Restorasi Klitoris

(fds/vit)

LEAVE A REPLY