Ragam Hepatitis

0
50

Sakit hati selalu identik dengan putus cinta atau perasaan kecewa. Padahal dalam dunia medis, sakit hati berarti terjadinya suatu kelainan pada organ hati (liver) seseorang. Akibatnya, liver atau hati yang berfungsi sebagai penyaring racun dalam darah tidak dapat bekerja maksimal. Salah satu kelainan tersebut adalah hepatitis.

Hepatitis merupakan bentuk peradangan pada hati yang terjadi akibat faktor infeksi dan non infeksi. Hepatitis yang disebabkan oleh faktor infeksi biasanya terjadi akibat bakteri, virus atau amoeba. Hepatitis virus yang sering terjadi yaitu virus hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), dll. Sedangkan kasus hepatitis yang disebabkan faktor non infeksi bisa diakibatkan obat, zat kimia, kolesterol tinggi, alkohol dll.

Dr. Hardianto Setiawan Ong, SpPD* selaku spesialis penyakit dalam divisi gastrohepatologi RS. Siloam, Jakarta menuturkan, hepatitis virus yang sudah teridentifikasi hingga saat ini adalah hepatitis virus A, B, C, D, E, F dan G. Namun yang sering terjadi adalah hepatitis A, B dan C. Sedangkan untuk hepatitis lainnya masih sulit diidentifikasikan karena terbatasnya sarana pemeriksaan di Indonesia.

Hepatitis A akut adalah hepatitis yang penderitanya dapat sembuh sempurna dan jarang terjadi komplikasi dan tak akan menjadi kronis. Bagi mereka yang pernah terinfeksi HAV akan memiliki kekebalan seumur hidup.

“Artinya, jika seseorang telah terkena hepatitis A, maka tidak akan terinfeksi HAV kembali,” jelas dr.Hardianto.

Pada kasus hepatitis B akut, 95% penderita akan sembuh, sedangkan sisanya dapat menjadi kronis dan memerlukan pengobatan khusus. Penderita hepatitis B kronis harus melalui tahap pengobatan yang lama dengan keberhasilan hanya 40-50% saja. Sedangkan akibat dari virus hepatitis C sebagian penderitanya akan menjadi kronis.

Para penderita hepatitis biasanya memiliki gejala yang hampir sama, seperti panas tinggi, mual, muntah, nyeri perut , mata dan kulit kuning. Namun kasus hepatitis B dan C pun seringkali timbul tanpa gejala.
Pada kebanyakan kasus HBV dan HCV terdiagnosis tanpa disengaja, karena minimnya gejala terutama saat melakukan general check up atau ada anggota keluarga yang sebelumnya pernah terkena hepatitis.

Jika tidak diberi penanganan lebih lanjut, kebanyakan kasus hepatitis B dan C kronis akan berujung pada pengerasan hati (sirosis hepatis) atau kanker hati. Akibatnya, penderita harus melakukan transplantasi hati bahkan dapat menyebabkan kematian. Sayangnya, penderita yang telah melakukan transplantasi hati tersebut tetap berpotensi untuk kembali menderita hepatitis jika fungsi hatinya kembali terganggu.

Hepatitis juga dapat terjadi pada ibu hamil dan berpegaruh pada bayi yang dikandungnya. Dokter berkacamata ini menambahkan, jika seorang ibu menderita hepatitis B atau C, maka anak yang dikandungnya kemungkinan dapat tertular. Bila dari bayi sudah menderita hepatitis B atau C, setelah rentang waktu 10-20 tahun, anak tersebut akan mengalami sirosis hepatis bahkan kanker hati di usia muda. Untuk itu penting bagi ibu hamil untuk melakukan vaksinasi sebagai tindakan pencegahan terjadinya hepatitis selama masa kehamilan.

Hepatitis dapat dicegah melalui vaksinasi serta pola hidup yang baik. Lakukan vaksinasi hepatitis A atau B sebelum terlambat dan mintalah bantuan dokter di puskesmas atau rumah sakit terdekat di kota Anda untuk mendapatkan vaksinasi tersebut.

“Mengatur pola makan, menjaga kebersihan makanan, bebas narkoba serta menghindari penggunaan jarum yang tidak steril adalah solusi yang baik untuk mencegah penyakit hepatitis virus,” pungkas dr.Hardianto.

LEAVE A REPLY